Sedikit pencerahan untuk migrasi ke open sources (baca : Linux)

Hampir setahun lalu, ketika saya sedang asyik bekerja (dan belajar tentunya) dengan OpenOffice, saya didatangi oleh seorang teman. Sembari bergurau teman saya itu berkata, wah… pakai Linux nih sekarang? Saya hanya nyengir saja dan mengatakan, iya dong… kita mau migrasi nih. Lalu teman saya tersebut memberikan sedikit komentar yang pada dasarnya menurut dia pemakaian Linux di kalangan umum sekarang ini hanya faktor trend saja. Sempat juga sih kepingin berargumen, tapi sekali lagi saya hanya mengiyakan dengan perasaan sedikit mangkel.

Suatu saat saya main ke sebuah pusat penjualan komputer di kota Denpasar. Saya sih sebenarnya cuma lihat-lihat saja sambil sedikit mengamati perkembangan teknologi (dan yang pasti harga) prosesor serta periperal komputer lainnya. Ketika saya berbincang dengan seorang “boss” sebuah dealer, pembicaraan akhirnya mengarah ke sistem operasi yang digunakan. Dengan enteng dan tanpa rasa bersalah si boss itu bertanya pada saya, apa sih sebenarnya beda sistem operasi (baca : Windows) yang original dengan yang bajakan? Toh sama saja kan, selanya lagi sambil meyakinkan dan menceramahi saya pada satu keluaran notebook tertentu. Saya hanya tersenyum dan yang pasti saya tidak lagi meladeni diskusi dengan si boss tadi.

Saya jadi ingat ketika menempuh pendidikan S2 di Yogya sekitar 8 tahun silam. Ketika saya mengambil mata kuliah Fisika Komputasi, saya diampu oleh seorang dosen (Dr. Pekik Nuswantoro) yang ‘Linux minded‘. Di laboratorium beliau pada waktu itu seluruh komputer yang ada terkoneksi dengan sebuah jaringan dengan Linux SuSE sebagai sistem operasinya. Ketika itu saya berpikir, wah… ribet banget nih pakai Linux. Saya jadi ketawa-ketawa saja ketika saya praktikum dengan Pak Bagus Paramartha teman saya, apalagi programming-nya pakai Fortran. Maklum pada saat itu GUI-nya boleh dikatakan masih primitif sehingga tidak user friendly.

Sekarang, GNU/Linux (atau cukup dikatakan Linux saja) telah menjadi sebuah sistem operasi yang populer dan tersedia dalam berbagai versi (distro). Banyak perusahaan dan instansi yang sekarang beralih ke Linux dengan berbagai pertimbangan. Perkembangan sistem operasi Linux sehingga menjadi sistem operasi yang stabil, handal dan populer seperti sekarang ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak di seluruh dunia melalui jaringan komputer (internet) yang berkomitmen pada konsep yang dikenal dengan open source. Konsep open source berpegang pada prinsip adanya kebebasan bagi setiap orang untuk menciptakan, mengembangkan, menyempurnakan serta menggunakan perangkat lunak yang tersedia tanpa ada pengecualian. Kebebasan disini tidak selalu secara sempit berarti bebas untuk tidak membeli atau bebas untuk menggandakan secara tidak sah perangkat lunak yang oleh penciptanya jelas-jelas tidak diijinkan untuk digunakan secara bebas. Bebas disini lebih tepat berarti adanya kebebasan, baik dari pencipta maupun pemakai, untuk mendayagunakan perangkat lunak tersebut. Mungkin karena konsep seperti ini ada kesamaan nuansa dengan lingkungan akademik sehingga perkembangan Linux beserta perangkat lunak pendukungnya lebih banyak dikembangkan dan diterima dalam kalangan Universitas dan Lembaga Riset.

Tampilan OpenOffice pada Ubuntu 8.10

Tampilan OpenOffice Pada Ubuntu 8.10

Alasan utama pemilihan Linux sebagai sistem operasi terutama adalah dari segi kelayakan dan akademik. Mengingat harga lisensi (licensed) dari sebuah sistem operasi berbayar (propriate) seperti Microsoft Windows untuk satu PC yang cukup mahal, maka biaya tersebut semakin tidak terjangkau dengan kenyataan bahwa tiap jenis aplikasi yang bekerja di bawah sistem operasi Windows pada umumnya juga berharga cukup mahal. Meskipun di Indonesia terutama di kota-kota besar mudah sekali untuk mendapatkan salinan compact disk (CD) dari berbagai versi Microsoft Windows termasuk program-program aplikasinya, namun hal ini tidak menghilangkan kenyataan bahwa salinan tersebut tetap tidah sah (illegal) untuk dipakai. Untuk digunakan di lingkungan akademik (apalagi universitas), hal ini akan menimbulkan keadaan dilematis. Di satu sisi, universitas termasuk komponennya (dosen dan mahasiswa) adalah anggota masyarakat akademik yang sangat terbuka dan menghormati hak cipta orang lain atau Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Di sisi lain ketika pemakaian program secara tidak sah tersebut diterapkan maka ini berarti telah melanggar kode etik terhadap hak cipta orang lain. Secara teknis, beberapa kelebihan Linux/UNIX dengan sistem operasi lainnya adalah adalah karena Linux dapat berjalan di banyak platform hardware yang berbeda dan banyak digunakan oleh security professional untuk pengamanan jaringan lokal maupun internet. Selain itu Linux tergabung dalam sistem teknologi keamanan (cutting-edge) yang cocok untuk membangun firewall dan keamanan jaringan pribadi dalam kebutuhan pengiriman data. Ada banyak sekali distro Linux yang sudah beredar, diantaranya RedHat, Debian, Slackware, SuSE, Mandrake, Fedora, Ubuntu, Mandriva, Mint dan masih banyak distro-distro lainnya yang telah tersedia maupun yang akan muncul. Masing-masing distro bisa saja mempunyai “turunan” yang baru ataupun “lahir” dari distro yang lebih awal. Sebagai contoh adalah Ubuntu, yang merupakan sebuah distro turunan dari Debian dan bisa berjalan dengan baik pada flatform i386(x86), AMD64(x86-64) serta SPARC. Terkadang sebuah distro baru tercipta karena alasan kemudahan untuk memperoleh sebuah sistem operasi yang kemudian disesuaikan dan diadaptasi ke dalam bahasa tertentu. Contoh untuk hal ini adalah IGOS (Indonesia Go Open Source) ataupun BlanKon.

Masalah selanjutnya yang mungkin muncul dalam penggunaan Linux adalah migrasi ke program aplikasi dimana user sebelumnya sudah familiar pada lingkungan perangkat lunak berbayar. Jangan khawatir …!!!! Linux telah menyediakannya. Berikut saya sertakan beberapa padanan program aplikasi yang ada di Linux dengan Windows.

Windows

Linux

Microsoft Office(Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft PowerPoint) OpenOffice (OpenOffice.org Writer, OpenOffice.org Calc, OpenOffice.org Impress)
Photoshop GIMP
ACD See gThumb/Fspot
WinAMP JuK/Rhythmbox
Windows Media Player Dragon/Gstreamer
Notepad Gedit, Vi, Kwrite
C/C++ gcc/g++
Pascal gpc/freepascal
Fortran g77/g90/gfortran
MatLab scilab
Microsoft Visual Basic Gambas
dll

Nah.. sudah jelas kan sekarang, kenapa kita tidak mau bermigrasi karena alasan sepele? Kalau anak saya yang belum sekolah TK saja sudah familiar menggunakan program aplikasi Tux Paint ataupun sekedar bermain Same GNOME (sebuah aplikasi untuk pendidikan dan permainan yang terdapat pada Ubuntu 8.10/Intrepid), kenapa anda tidak ? Kalau ada masalah, cukup sambangi paman Wiki(pedia) atau uncle Google saja.

Advertisements