Yogya, UGM dan Pak Elman

“Oh…gitu ya ..!!!”, katanya dengan logat Batak yang kental ketika menirukan ucapan salah seorang staf kantor pusat UGM yang memberi informasi beasiswa (BPPS) S3-nya. Nama lengkapnya adalah Elmanani Simamora. Pak Elman adalah salah seorang staf pengajar dari UNMED (Universitas Negeri Medan) yang ingin menempuh pendidikan doktoral di Program Studi Matematika FMIPA UGM. Teman dari Medan ini boleh dibilang “bonek” dalam urusan sekolah. Dia lulus S2 Matematika ITB dengan biaya sendiri, malang melintang di bimbel, sebelum akhirnya menjadi dosen di UNMED. Keinginan dan tekadnya yang kuat untuk menjalani program doktoral membawanya dia terdampar di Kota Gudeg itu. Tapi, Pak Elman tampaknya “kecolongan”. Setelah Pak Elman dua bulan di Yogya, ternyata ada pemberitahuan dia diterima di PS Matematika UGM, tetapi beasiswa-nya belum ada kejelasan. “Sudah kepalang basah”, katanya. Dia akhirnya memutuskan untuk biaya sendiri terlebih dahulu, sambil menunggu beasiswanya keluar. Kabar terakhir setelah menunggu hampir tiga bulan, beliau mengirim pesan pada saya bahwa beasiswanya sudah keluar dan akan memboyong keluarganya untuk migrasi ke Jogja. Pembawaannya yang sederhana, apa adanya, gaya bicaranya yang khas Batak membuat saya cepat akrab dengan dia. Jadilah keluar uneg-uneg kita berdua tentang pendidikan, UGM dan Yogya.

Hari itu udara Yogya sangat panas-panasnya, suhu yang dicatat BMKG sempat menunjukkan angka 37oC di beberapa tempat pada siang hari. Saya berjalan menyusuri Jalan Kaliurang, lewat depan hotel Ishiro, masuk lewat jalan belakang MM UGM, Sekip Utara hingga akhirnya sampai di pintu masuk utara Fakultas Biologi UGM. Inilah kegiatan rutin yang saya lakukan selama tiga minggu di Yogya. Saya jadi teringat sekitar 7-8 tahun yang lalu ketika saya menempuh pendidikan S2 di PS Fisika UGM. Saat itu saya tinggal tidak terlalu jauh dengan tempat “kost” saya bersama Pak Elman tadi. “Selamat datang di UGM, nikmatilah dulu suasana Kota Yogyakarta ini..”, demikian sambutan Pak Widodo Prijodiprojo pada waktu itu ketika menerima kami sebagai mahasiswa S2. Waktu itu lesehan banyak bertebaran di sepanjang Jakal (Jalan Kaliurang), setiap sore menjelang malam di setiap gang mahasiswa/mahasiswi lalu lalang untuk mencari makan malam dengan beragam pilihan. Tetapi sekarang keadaan itu sudah agak berubah, walaupun tidak sedrastis kemajuan yang dialami UGM.

Yogya dan UGM adalah dua icon yang tidak bisa dipisahkan. Tetapi kalau saya amati terdapat perbedaan yang amat mendasar diantara keduanya. Mengambil ungkapan teman saya, seberapapun pesatnya pembangunan dan pengembangan kota Yogya (khusus untuk sarana fisik dan properti), tidak mungkin akan mengalahkan Denpasar dan daerah wisata sekitarnya (Kuta, Sanur dan Nusa Dua). Ini dikarenakan kota Yogya identik dengan dunia pendidikan, walaupun memang pariwisata tetap menjadi sektor lain yang diandalkan, tetapi pengembangannya tidak seperti Kuta atau Nusa Dua. Hal ini mungkin kontradiktif dengan UGM. Sejak diproyeksikan menjadi BHMN, almamaternya Wapres Budiono ini seolah berlari kencang untuk mewujudkan ambisinya menjadi World Class University. Saya sempat termenung ketika akan memasuki halaman Fakultas MIPA UGM, “wah… sudah berubah jauh nih”, pikir saya. Lokasi kampus yang strategis, dikitari oleh semua jalur bus kota, penataan yang baik terutama sarana fisik, jadilah sebuah kampus yang “terasa” academic atmosfer-nya. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang pendek untuk berubah sejak saya pertama kali datang, tetapi UGM (khususnya FMIPA) sudah membuktikannya. Drastis…. kalau boleh saya bilang. Hal ini tentunya disebabkan banyak faktor, bukan saja internal tetapi akibat sistem yang sudah sedemikian mapan. Proses pembelajaran, aktifitas dan kualitas dosen, sarana laboratorium, IT, administrasi dan birokrasi serta sarana penunjang yang memadai menyebabkan kampus ini “benar-benar hidup”.

Wajar memang, mahasiswa UGM boleh berbangga hati bahwa mereka bisa menikmati pendidikan di salah satu universitas terbaik di negeri ini. Dengan konsekwensi, mereka haruslah membuktikan diri dan berusaha dengan ulet untuk menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kompetensi yang telah digariskan. Begitu juga dengan rekan saya Pak Elman ini. Orang-orang seperti Pak Elman mungkin dapat memberi inspirasi bagi kita bagaimana kemauan dan tekad yang keras merupakan modal dasar untuk mencapai sebuah cita-cita dan impian. Selamat berjuang kawan…!!!

Advertisements

5 Responses

  1. senior bli putu widyatmika,apa kbr…ketemu jg dg blognya.Numpang lewat bli, ingat cerita jadul semasa kuliah…Salam dg rekan2!

    • Wah…si bos baru kelihatan. Dimana sekarang ??? Sekali2 main ke Kampus dong, lihat2 sekalian reuni, ato ngasi spirit ke adik2 kita. Slamnya tak sampaikan nanti yo bos. Keep the contact !!

  2. Wah,, jadi pengen ke jogja juga,, terutama ke malioboro..
    hehe…

    btw, hand out materi ku FISMODl nya di post di bagian mana nya ya pak??
    pengen donlod,
    hehe…

    • Wah,, jadi pengen ke jogja juga,, terutama ke malioboro..
      hehe…

      btw, hand out materi kuL FISMOD nya di post di bagian mana nya ya pak??
      pengen donlod,
      hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: