UTS Komunikasi Data STMIK Denpasar

Bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Komunikasi Data, soal UTS bisa diunduh (download) di sini. Syarat dan ketentuan silahkan baca di sini. Terima kasih.

Advertisements

Mechatronics

Industry and the consumer market require engineering processes and products that are more  reliable, more efficient, smaller, faster, and less expensive. The production and development of these devices require engineers who can understand and design systems from an integrated perspective. A discipline that shows particular promise in this arena is mechatronic design, based on the integration of mechanical engineering, electrical engineering, and computer science (figure below).

Mechatronics is an especially important and interesting domain for modern industry for a number of reasons. The automotive, aerospace, manufacturing, power systems, test and instrumentation, consumer and industrial electronics industries make use of and contribute to mechatronics. Mechatronic design has surfaced as a new philosophy of design, based on the integration of existing disciplines primarily mechanical, and electrical, electronic, and software engineering. Design elements from these traditional disciplines don’t simply exist side by side, but are deeply integrated in the design process. Whether a given functionality should be achieved electronically, by software, or by elements from electrical or mechanical engineering domains requires mastery of analysis and synthesis techniques from the different areas. Being a successful mechatronics design engineer requires an in-depth understanding of many, if not all, of its constituent disciplines.

One of the distinguishing features of the mechatronic approach to the design of products and processes is the use of embedded microcontrollers. These microcontrollers replace many mechanical functions with electronic ones, resulting in much greater flexibility, ease of redesign or reprogramming, the ability to implement distributed control in complex systems, and the ability to conduct automated data collection and reporting. Mechatronic design represents the fusion of traditional mechanical, electrical, and software engineering design methods with sensors and instrumentation technology, electric drive and actuator technology, and embedded real-time microprocessor systems and real-time software. Mechatronic systems range from heavy industrial machinery, to vehicle propulsion systems, to precision electromechanical motion control devices. (By Principles and Application of Electronics, McGraw Hill)

Pengalaman Menjadi Narasumber

Dua hari itu (14 dan 15 Desember 2009) adalah hari-hari sibuk yang saya lalui. Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi (PHK-I), dimana saya menjadi PIC (Personal In Charge) salah satu kegiatan akan mengadakan Workshop dengan tema soft skills dalam proses pembelajaran. Kegiatan saya menjadi lebih sibuk lagi karena di saat yang bersamaan saya harus menyiapkan presentasi / pada workshop tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap kegiatan magang soft skills yang sudah saya lakukan. Hal ini diperparah lagi karena fasilitas ruang yang akan dipergunakan ternyata terbatas. Akhirnya saya terpaksa kerja keras menghubungi unit/orang yang berkompeten dengan hal tersebut. Mulai dari urusan seminar kit, piagam, survey ruangan, pinjam peralatan, menata meja dan kursi agar sesuai dengan forum diskusi, sampai menghubungi petugas kebersihan.

Tibalah saaatnya hari-H itu (15 Desember). Narasumber utama dalam workshop tersebut adalah Prof. Ir. Made Supartha Utama, M.Si, Ph.D (Direktur Eksekutif PHK-I UNUD) dan Prof. Dr. drh. Nyoman Sadra Dharmawan, M.Si. Saya dan dua orang teman lain dari FTP (Pak Surya Wirawan dan Ibu Mahatma Tuningrat) juga menjadi pemakalah (lebih tepatnya sharing) untuk hasil-hasil magang yang sudah dilakukan. Yang membuat saya sedikit agak nervous, forum ini tidak hanya dihadiri oleh  dosen-dosen ketiga PS yang mendapatkan hibah ini (Fisika, TIP dan TEP), tetapi juga perwakilan dosen dari seluruh fakultas yang ada di UNUD. Mereka yang hadir sebagian besar adalah para senior yang tentunya lebih tahu dalam hal ini, bahkan mungkin mereka sudah sering menerapkannya atau malah lebih baik dari yang saya dapatkan di Fisika UGM

Kedua narasumber utama pada prinsipnya menegaskan pentingnya integrasi soft skill dalam proses pembelajaran dan dalam dunia kerja. Dua hal ini sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, demikian ungkap beliau-beliau ini dengan penuh semangat …!!! Tiba giliran saya dengan dua orang teman tadi, dag dig dug juga nih !! Saya paparkan hal-hal yang saya dapatkan selama magang di PS Fisika FMIPA UGM. Saya jelaskan mulai dari kurikulum yang mereka punya, implementasi soft skills dalam proses pembelajaran sampai detil pelaksanaannya terutama praktek-praktek baik (good pratices) dalam beberapa mata kuliah. Presentasi saya akhiri dengan rekomendasi hal-hal yang bisa dilakukan di jurusan atau di UNUD sendiri dan prinsip utama dalam dalam pengembangan soft skills. Saya katakan prinsipnya hanyalah 3M, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari hal-hal kecil. Pada saat terakhir, saya sempat melontarkan sebuah joke tentang perubahan paradigma yang harus dilakukan dalam hubungan dosen dan mahasiswa.  Saya katakan, “kalau paradigma lama hubungan dosen-mahasiswa itu seperti aturan opspek yang hanya terdiri dari dua pasal”. Pasal 1 : dosen tidak pernah salah. Pasal 2 : jika dosen salah, kembali ke pasal 1. “Paradigma ini harus dihapus”, teriak saya lantang. Setelah paparan dari saya dan kedua teman, selanjutnya diakhiri dengan sesi tanya jawab. Workshop yang berlangsung dari jam 09.00 – 14.00 WITA tersebut akhirnya berjalan sukses dan saya bisa bernafas lega, karena tugas saya sebagai panitia dan narasumber selesai sudah. Semua beban dari salah satu tugas akhirnya telah terlaksana. Saya pulang dengan santai seraya sekali-sekali berujar dalam hati… ternyata barusan saya jadi narasumber ya!!!!

Yogya, UGM dan Pak Elman

“Oh…gitu ya ..!!!”, katanya dengan logat Batak yang kental ketika menirukan ucapan salah seorang staf kantor pusat UGM yang memberi informasi beasiswa (BPPS) S3-nya. Nama lengkapnya adalah Elmanani Simamora. Pak Elman adalah salah seorang staf pengajar dari UNMED (Universitas Negeri Medan) yang ingin menempuh pendidikan doktoral di Program Studi Matematika FMIPA UGM. Teman dari Medan ini boleh dibilang “bonek” dalam urusan sekolah. Dia lulus S2 Matematika ITB dengan biaya sendiri, malang melintang di bimbel, sebelum akhirnya menjadi dosen di UNMED. Keinginan dan tekadnya yang kuat untuk menjalani program doktoral membawanya dia terdampar di Kota Gudeg itu. Tapi, Pak Elman tampaknya “kecolongan”. Setelah Pak Elman dua bulan di Yogya, ternyata ada pemberitahuan dia diterima di PS Matematika UGM, tetapi beasiswa-nya belum ada kejelasan. “Sudah kepalang basah”, katanya. Dia akhirnya memutuskan untuk biaya sendiri terlebih dahulu, sambil menunggu beasiswanya keluar. Kabar terakhir setelah menunggu hampir tiga bulan, beliau mengirim pesan pada saya bahwa beasiswanya sudah keluar dan akan memboyong keluarganya untuk migrasi ke Jogja. Pembawaannya yang sederhana, apa adanya, gaya bicaranya yang khas Batak membuat saya cepat akrab dengan dia. Jadilah keluar uneg-uneg kita berdua tentang pendidikan, UGM dan Yogya.

Hari itu udara Yogya sangat panas-panasnya, suhu yang dicatat BMKG sempat menunjukkan angka 37oC di beberapa tempat pada siang hari. Saya berjalan menyusuri Jalan Kaliurang, lewat depan hotel Ishiro, masuk lewat jalan belakang MM UGM, Sekip Utara hingga akhirnya sampai di pintu masuk utara Fakultas Biologi UGM. Inilah kegiatan rutin yang saya lakukan selama tiga minggu di Yogya. Saya jadi teringat sekitar 7-8 tahun yang lalu ketika saya menempuh pendidikan S2 di PS Fisika UGM. Saat itu saya tinggal tidak terlalu jauh dengan tempat “kost” saya bersama Pak Elman tadi. “Selamat datang di UGM, nikmatilah dulu suasana Kota Yogyakarta ini..”, demikian sambutan Pak Widodo Prijodiprojo pada waktu itu ketika menerima kami sebagai mahasiswa S2. Waktu itu lesehan banyak bertebaran di sepanjang Jakal (Jalan Kaliurang), setiap sore menjelang malam di setiap gang mahasiswa/mahasiswi lalu lalang untuk mencari makan malam dengan beragam pilihan. Tetapi sekarang keadaan itu sudah agak berubah, walaupun tidak sedrastis kemajuan yang dialami UGM.

Yogya dan UGM adalah dua icon yang tidak bisa dipisahkan. Tetapi kalau saya amati terdapat perbedaan yang amat mendasar diantara keduanya. Mengambil ungkapan teman saya, seberapapun pesatnya pembangunan dan pengembangan kota Yogya (khusus untuk sarana fisik dan properti), tidak mungkin akan mengalahkan Denpasar dan daerah wisata sekitarnya (Kuta, Sanur dan Nusa Dua). Ini dikarenakan kota Yogya identik dengan dunia pendidikan, walaupun memang pariwisata tetap menjadi sektor lain yang diandalkan, tetapi pengembangannya tidak seperti Kuta atau Nusa Dua. Hal ini mungkin kontradiktif dengan UGM. Sejak diproyeksikan menjadi BHMN, almamaternya Wapres Budiono ini seolah berlari kencang untuk mewujudkan ambisinya menjadi World Class University. Saya sempat termenung ketika akan memasuki halaman Fakultas MIPA UGM, “wah… sudah berubah jauh nih”, pikir saya. Lokasi kampus yang strategis, dikitari oleh semua jalur bus kota, penataan yang baik terutama sarana fisik, jadilah sebuah kampus yang “terasa” academic atmosfer-nya. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang pendek untuk berubah sejak saya pertama kali datang, tetapi UGM (khususnya FMIPA) sudah membuktikannya. Drastis…. kalau boleh saya bilang. Hal ini tentunya disebabkan banyak faktor, bukan saja internal tetapi akibat sistem yang sudah sedemikian mapan. Proses pembelajaran, aktifitas dan kualitas dosen, sarana laboratorium, IT, administrasi dan birokrasi serta sarana penunjang yang memadai menyebabkan kampus ini “benar-benar hidup”.

Wajar memang, mahasiswa UGM boleh berbangga hati bahwa mereka bisa menikmati pendidikan di salah satu universitas terbaik di negeri ini. Dengan konsekwensi, mereka haruslah membuktikan diri dan berusaha dengan ulet untuk menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kompetensi yang telah digariskan. Begitu juga dengan rekan saya Pak Elman ini. Orang-orang seperti Pak Elman mungkin dapat memberi inspirasi bagi kita bagaimana kemauan dan tekad yang keras merupakan modal dasar untuk mencapai sebuah cita-cita dan impian. Selamat berjuang kawan…!!!