Sekali Lagi tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Wah… ternyata selama ini saya belum menjadi dosen yang baik (baca : seutuhnya)….!!!, demikian sedikit perasaan hati saya setelah mengikuti workshop tentang pengembangan model pembelajaran dan assesment yang berbasis kompetensi. Walaupun gaung kurikulum berbasis kompetensi (KBK) ini sudah lama terdengar, tapi baru kemarin itu saya paham dan mengerti bagaimana perbedaan KBK dengan model kurikulum sebelumnya. Konsep KBK terasa lebih masuk lagi di otak saya terutama dari pemaparan Ir. Endrotomo, M.Sc., seorang dosen ITS dan staf DIKTI yang memberikan materi dengan cara yang sangat bagus sambil sekali-sekali diselingi “joke-joke” khas beliau.  Mengubah mind-set dosen maupun mahasiswa dan unsur yang terkait dalam PBL memang butuh waktu, begitulah kira-kira salah satu ringkasan diskusi dari workshop ini. Selama ini model pembelajaran yang dilakukan (khususnya di perguruan tinggi) masih kental dengan paradigma klasik yang berpusat pada dosen (Teacher Centered , Content Oriented). Paradigma baru mengharuskan mahasiswa sebagai subyek dalam proses pembelajaran (Student Centered Learning/SCL). Paradigma lama dicirikan oleh beberapa hal diantaranya pengetahuan ditransfer dari dosen ke mahasiswa sehingga mahasiswa menerima pengetahuan secara pasif dan fungsi utama dosen adalah pensuplai informasi utama serta proses pembelajaran dan assesment dilakukan secara terpisah. SCL mengharuskan mahasiswa secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dipejarinya dan fungsi dosen hanya sebagai fasilitator dengan evaluasi dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan. Dengan demikian diharapkan tercipta iklim yang bersifat lebih kolaboratif dan pengembangn ilmu yang interdisipliner. Hal ini mutlak diperlukan untuk mengantisipasi pergeseran paradigma yang terjadi di tingkat stakeholder (pasar kerja). Berdasarkan hasil survey di Amerika dan Kanada (yang ini saya mengutip datanya pak Endro) yang dominan dibutuhkan pasar kerja sekarang adalah kemampuan soft-skill diantaranya inisiatif, etika/integritas, berpikir kritis, kemauan belajar, komitmen, motivasi dll (ada 23 item). Sedangkan terjadi kesenjangan antara kemampuan lulusan perguruan tinggi dengan apa yang dibutuhkan di dunia kerja. Yang lebih dibutuhkan bukan lagi penguasaan dan ketrampilan IPTEK akan tetapi interpersonal dan intrapersonal skills. Apa yang harus kita lakukan? Tidak lain adalah adanya perubahan perilaku pembelajaran sehingga dapat meningkatkan mutu lulusan dan relevansinya. Di tingkat perguruan tinggi sudah seharusnya mempunyai policy yang jelas dengan memaksimalkan resources yang ada serta menyiapkan perangkat aturan dan monitoring untuk melaksanakan KBK tersebut. Kita sebagai dosen sudah seharusnya merubah mind-set kita dengan memulai (mencoba) model pembelajaran dan assesmen yang baru dan meninggalkan kebiasaan lama. Merubah sesuatu yang mungkin sudah mengakar memang susah, butuh waktu. Tetapi kenapa kita tidak mengadopsi dan menerapkan slogan Pak SBY dulu (maaf, bukan berarti saya mendukung beliau)…bersama kita bisa !!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: